Angan Tanpa Tangan
Bagaimana
rasanya berekspetasi dengan apa yang kamu inginkan? Indah bukan. Bisa berangan
kesana dan kesini bisa membangun harapan setinggi Monumen Nasional bahkan
menciptakan jawaban sendiri atas kebimbangan yang dialami.
Banyak
yang terjebak disana, didalam indahnya berekspetasi. Membangun yang belum ada,
menginginkan yang belum pasti dan menggiring opini sendiri. Percayalah semua
orang senang bermimpi tinggi tapi terkadang seseorang juga lupa bagaimana bangkit
setelah jatuh berkali-kali. Berekspetasi juga termasuk usaha, usaha membangun
angan-angan meski tahu kenyataannya tidak demikian. Kita hanya perlu sadar
seberapa perlu kita bermimpi dan sisanya harus tetap bangun, berjaga saja bila
suatu saat ekspetasi yang kita buat dengan sadar itu malah mengkhianati kita dengan
kasar mungkin lebih kasar dari kata brengsek dan semacamnya.
Memiliki
angan yang tak memiliki tuan ataupun lengan pasti berakhir pilu dan
menyakitkan. Kenapa demikian? Logikamu jalankan, kamu punya seberkas harapan lalu
kamu berikan pada yang tak berlengan, jatuh kan semua harapanmu itu. Kecuali
ada yang mau menurunkan pandangannya ke bawah dan bilang “ayo pungut harapanmu”,
dia adalah salah satu yang paling mengerti bagaimana rasanya berharap namun
dijatuhkan oleh keadaan, dia memang tak berlengan untuk mengapai harapanmu tapi
setidaknya dia punya kemauan untuk tidak membiarkan sisa harapmu jatuh ketanah begitu
saja, terima kasih kamu.
Aku
memiliki sebutan untuknya “Manusia Tak Berlengan”.
Itu
bukan karena dia tidak memiliki lengan atau fisik yang tidak sempurna, itu
hanya sebuah perumpamaan kasar yang aku rasa cocok untuknya. Tangannya tidak diciptakan untuk menggenggam tanganku, jemariku maupun segudang harapanku tapi setidaknya dia mampu memberiku waktu
untuk tidak membiarkan harapan yang aku bangun terlalu lama jatuh menyentuh
tanah.
Angan
tanpa tangan memang selalu aku jadikan pilihan tapi manusia tak berlengan itu tak
pernah hilang dari ingatan.
Maaf,
Cuma mau bilang
Jangan
berharap lebih, karna hasilnya tetap akan pedih kecuali kau manusia yang gigih
dalam membuat orang lain merintih.
Dariku,
Yang
menaruh harapan.
Komentar
Posting Komentar