Luka Bukan Salah Waktu



Padahal baru kemarin waktu mempertemukan kita ditengah-tengah kehancuran dunia, di mana saya dan dia telah sama-sama hilang rasa. Baru sebentar saya lihat senyum dia dari dekat, jahatnya waktu merampas itu begitu cepat tanpa lihat-lihat. luka adalah obat abadi dari rasa sakit yang pernah dialami dan bahagia adalah penangkal yang paling mujarab makanya yang sering dicari itu bahagia bukan luka tapi justru yang didapati hanya luka, luka, dan luka lalu kapan akan sembuhnya? Waktu bukannya memberi obat tapi malah menciptakan luka baru yang tidak kalah sakit dari yang sebelumnya.
Merelakan juga bagian dari luka, rela dia sama yang lain, rela dia bahagia sama yang lain, rela nangis cuma karna gak bisa denger kabar dia lagi, rela selalu kangen tapi gak dikangenin balik, semua yang saya ingin harus sesegera mungkin direlain. Karna waktu juga punya limitnya sendiri, pertemuan dan kebahagiaan yang dia kasih udah dibatas paling ujung, sebentar lagi habis bahkan sudah habis sejak kemarin.
Kalo saya bilang waktu itu jahat bagaimana dengan dia? Waktu yang mengalir begitu saja tanpa permisi dan gak berbuat apa-apa aja masih sering disalahkan karena perpisahan yang dialami umat manusia didunia, padahal waktu sudah berjalan dengan semestinya sesuai alur tapi kenapa masih ada sebutan waktu yang salah, waktu yang gak tepat, waktunya belum pas, waktunya gak mendukung dan masih banyak lagi kesalahan waktu yang kita ciptakan  hanya untuk menutupi kesalahan yang sebenernya belum kita sadari.
Sedang mencoba berpikir lagi kalau dia ninggalin saya dan itu membuat saya terluka berarti bukan salah waktu karena gak bisa kasih saya limit yang lebih panjang buat terus sama dia tapi ya emang dianya aja yang udah gak mau lagi jalan disamping saya untuk mencapai mimpi-mimpinya yang saya sendiri belum tau perisnya kaya apa dan bagaimana. Saya pernah bilang sama dia kalau saya punya kesimpulan sendiri dalam hal mencoba, menurut saya mencoba adalah melakukan sesuatu yang kita inginkan tapi berhenti sayang sama dia itu gak pernah saya coba karna itu bukan keinginan saya,  tapi lagi-lagi waktu bisa jadikan itu sebuah keinginan yang harus saya coba.
Ternyata semesta kirimin dia buat saya bukan untuk mengawetkan rasa bahagia yang saya pikir bakalan selamanya dan limit waktu itu udah gak berguna buat saya dan dia. Semesta jatuhin hati saya ke dia itu untuk lebih menghargai luka dan waktu secara bersamaan. Luka juga perlu dihargai karna tanpa luka kita engga bakal bisa bangkit lagi dan kuat jika suatu saat menghadapi sesuatu yang justru lebih parah dan akan melukai kita jauh lebih dalam daripada sekarang.
Kalau saya harus terluka dan itu sudah waktunya, tidak apa-apa. Semua sudah berjalan sebagaimana alur yang telah tuhan tuliskan dari awal. Kalaupun saya engga kehilangan dia saya engga bisa menghargai luka dan rasa sakit yang saya rasakan.
Bagaimanapun luka menggerogoti waktu indah saya dengan dia, perasaan tetap gak bisa dipaksa terus sejalan karna memaksa hanya akan menimbulkan luka baru yang ujung-ujungnya pasti nyalahin waktu.

Udah waktunya capek mau berputar sesuai jarum jam yang seharusnya dan biarkan luka juga sembuh dengan sendirinya, dibantu waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meninggalkan Rumah