Meninggalkan Rumah
Semakin
berlalu pekan-pekan sepi kebelakang, saya baru sadar bahwa ternyata sebaik-baiknya
tempat pulang, bercerita, dan bergembira hanya satu. Tempat yang pernah saya
tinggali lalu saya tinggalkan. Dia sosok rumah megah dengan segala kenyamanan,
membuat saya ingin kembali dan kembali tinggal di dalamnya. Setelah begitu
banyak cerita yang saya bagikan ke beberapa orang berbeda, naas tak ada satupun
yang menjawab setenang dan semenakjubkan seperti yang dia lakukan. Yang satu
hanya banyak tertawa tanpa mengerti apa yang saya gelisahkan, yang lainnya
hanya iya-iya saja padahal itu membuat saya khawatir. Tidak banyak yang
tahu bagaimana cara menanggapi cerita rumit dari orang biasa seperti saya, tapi dia mampu membuat segala kegelisahan menjadi tawa yang menenangkan hanya
dengan satu lawakan. Sehingga saya merasa kata “Kalau ada apa-apa cerita aja”
sungguh percuma kalau itu bukan dia.
Saya
bertanya-tanya seperti apa sosok rumah yang saya tinggalkan ini, apakah banyak
penghuni baru di dalamnya, apa banyak cerita yang mampu diselesaikannya dengan
cara yang hanya dia yang bisa atau justru rumah itu sepi tanpa tamu. Satu-satunya
rumah yang tetap mau membuka pintunya meskipun tahu saya hanya membawa amarah
dan kata-kata kasar untuk ditumpahkan, ia tetap membawa saya masuk dan mengerti
sebelum saya mengeluarkan sepatah kata. Entah bagaimana dengan perasaannya,
saya tidak pernah bertanya apakah dia mampu mewadahi segala asa dan resah kecil
saya disetiap harinya. Dia tidak pernah lelah menanggapi lawakan garing saya
yang sebenarnya juga tidak lucu, selalu punya cara membuat sumpah serapah saya
jadi tawa yang bergema.
Siapa
yang mau mendengarkan cerita yang sama berkali-kali dan mengucapkan saya ngerti
apa yang kamu rasain, selain dia. Saya rasa tidak ada, yang lain hanya akan
bilang “Itu cerita yang kemarin kan? udah diceritain.” Apa saya bilang, cuma dia yang kebal kuping dengar cerita saya yang kadang enggak penting. Siapa yang
mau memeluk saya hanya karna saya resah dengan telepon yang terus berdering
dari nomor yang tidak dikenal, orang yang selalu mau diganggu tengah malam
hanya karna saya punya pertanyaan yang jawabanya hanya iya dan tidak, cuma dia.
Saya
meninggalkan rumah yang ditinggali banyak orang tapi kenyamanan yang saya dapat
itu gak pernah kurang, sisi lain saya sadar bahwa saya gak bisa terus-terusan
tinggal diatap yang bukan punya saya. Makanya saya nekat ninggalin rumah megah
yang saya yakini emang cuma ada satu, sampai detik ini. Saya jadi enggan cerita
kalau tanggapannya gak sama seperti dia, meskipun yang saya ceritakan hanya
soal kebingungan saya memilih mie kuah atau mie goreng.
Saya
harap rumah itu tetap jadi rumah impian saya, di mana segala resah bisa sirna
seketika karena kehadirannya. Kalaupun tidak, semoga ada rumah lain yang mampu memberikan
saya jawaban yang lebih menakjubkan dari yang pernah dia berikan.
Terima kasih,
Telah jadi rumah ternyaman
Dari saya yang pernah tinggal.
Komentar
Posting Komentar