Perpisahan yang kembali dirayakan


Merelakan tampaknya tidak bersahabat dengan rasa senang, karna pastinya hal yang berusaha keras direlakan pada akhirnya akan jadi berita duka bagi diri sendiri dan rasa senangnya ada ditahap kembali merayakannya sekali lagi. Tidak banyak kata perpisahan yang saya ucapkan waktu itu karna sejatinya kamu sudah duluan pergi tanpa sepatah kata hati-hati dan terima kasih, segala yang terlewati beratus-ratus hari kebelakang rasanya belum cukup membawa saya kepada kata ‘sudah rela’ atau paling tidak kata merelakan sudah ada dalam rencana saya.

Pada akhirnya perpisahan, kehilangan, dan hal menyedihkan lainnya akan kembali lagi dikenang bahkan sesekali dirayakan, bukan sekali tapi sudah hampir kebeberapa kalinya. Tidak mudah memang bersorak hore.. hore.. ditengah kepahitan kenyataan sebab merelakan perpisahan yang tengik sama saja membuka luka itu sekali lagi. Perpisahan yang kerap jadi musuh besar kita pada saat itu akhirnya jadi keinginan terbesarmu, hingga sampai hari dimana itu terjadi perpisahan hanya akan kembali saya rasakan dan juga saya rayakan, bukan dengan sorak gembira perpisahan itu dirayakan melainkan dengan upaya rela yang telah direncanakan namun roboh begitu saja. Sehingga kita merayakan apa yang tidak tergapai agar diri sendiri mampu bangkit dan tidak merasa bodoh lagi, jika usaha merelakan perpisahan sudah setengah jalan maka teruskan lalu rayakan kemenangan yang sebenarnya bukan meledek rasa sedih dengan merayakan kebodohan diri sendiri.

Saya ingin seabai dirimu dalam menghadapi perpisahan ssekaligus merelakannya karna dengan begitu banyak waktu yang bisa saya lalui dengan benar-benar tidak kenapa-kenapa. Jika saja yang duluan pergi itu saya maka kamu yang akan merasakan derita dan pilu karna tidak lagi sama-sama tapi apa daya rasa yang saya punya lebih besar dari kecewa yang saya terima sebab perpisahan yang saya rayakan kembali lagi, lagi, dan lagi.

Saya juga ingin sepandai dirimu dalam membuat kecewa, agar kamu tahu bahwa kecewa juga punya harga untuk sembuh dan menerima. Jika saja saya yang menimbulkan kekecewaan itu barangkali kamu bisa memaknainya saat ini, kecewa yang hilang karna rasa cinta. Egois memang, tapi memang begitu kenyataannya. Semua reda, semua sirna, dan kembali menjadi luka. Begitulah yang namanya kecewa.

Sekali lagi, usaha menyakiti diri sendiri dan kembali merayakan perpisahan dilain hari, hidup hanya tentang seleksi alam dan yang kuat dialah yang tetap bertahan. Seandainya perpisahan bukan hal yang menyedihkan maka saya rela berpisah terus tapi beda cerita kalau yang ini, pisah, jauh, pergi, hilang, dan kembali. Seperti permainan yang tidak punya akhir tapi pada saatnya tiba akan ada sang pemenang yang menjadi ending permainannya.

Komentar