FALL AGAIN


Hari ini aku bukan ingin membuat tulisan dengan kata yang bermakna konotatif dan bermajas. Hari ini aku hanya ingin menumpahkan segala yang aku rasakan melalui tulisan, maka segala yang ada disini bukan apa yang ingin kalian baca tapi tulisan ini menyajikan apa-apa yang aku pendam dan kemudian aku tumpahkan.

Aku kembali lagi terluka, pada fakta yang sama fakta bahwa kamu  masih amat mencintainya, fakta bahwa kamu kembali kedalam pelukannya dan fakta bahwa selama ini aku dibuat mencinta namun kamu jatuhkan lagi dengan fakta kamu adalah miliknya. Mulai detik ini aku tidak akan pernah lagi percaya pada kata tidak yang keluar dari bibirmu, entah kenapa kata tidak seperti kiasan kata ia yang amat dijaga, dengan embel-embel menjaga perasaanku. Kamu utarakan kata tidak untuk sesuatu yang masih kamu inginkan tapi tidak denganku.

Aku kembali lagi hancur dihantam keras kenyataan yang sedari waktu itu aku percaya tidak akan lagi terjadi, kamu mencintainya dengan segenap rasa yang kamu punya, kamu menjaganya seperti security 24 jam yang ada disetiap kav perumahan mewah, kamu betul-betul bahagia bertemu dengannya meskipun sering kali ia buat terluka. Aku, manusia yang berusaha keras membuatmu senang dan bahagia seakan bukan lagi sumber bahagia yang kamu dambakan.

Perempuan itu sangat kejam, ia mengambil semua khawatir dan waktuku bersamamu tapi ia juga yang pada akhirnya meninggalkanmu dengan luka yang menganga. Aku yang susah payah menjaga hatimu dan bahagiamu ditinggalkan disebrang sana sedangkan ia yang selalu membuat kecewa kamu temui dipersimpangan tempat dimana kamu meninggalkanku, sebegitu tidak berartinya keberadaanku sampai pada kata bertemu dengannya bisa mengobati segala rindu dan luka yang kamu rasakan, tapi sekarang apakah masih bisa ia mengobati lukamu yang dibuat sendiri oleh perempuan itu? Sudah banyak waktu yang aku buang dan habiskan untuk menemanimu berjalan disaat semua yang peduli meninggalkan, aku yang dengan yakin menuntun mu kearah yang kamu mau tapi ketika dia datang dan mendorongku hingga jatuh, kamu diam saja dan kamu malah terus berjalan dengan menggenggam  tangannya erat lalu aku kembali ditinggalkan.

Sesempurna itu dirinya hingga aku yang mengusahakan banyak hal  tetap tidak bisa jadi yang pertama bahkan satu-satunya. Saat itu kamu bilang membenci perempuan itu tepat dihadapanku, bola mata tajammu seaakan menolak ucapan itu. Bodohnya aku mempercayai hal itu dan mengelus lembut rambut hitam pekat itu, aku meyakinkan diriku bahwa hal yang sama tidak akan terjadi lagi karna kamu sudah yakin 80% untuk tidak lagi melihat kebelakang tetapi nyatanya rasa cintamu kepadanya mengalahkan segala yakin diwaktu itu, seakan apa yang kamu ucapkan padaku hanya mimpi yang sudah berlalu dan kamu bangun tepat saat kamu masih menjadi miliknya.

Ternyata alasan kamu menghadang kepergianku adalah ini, kamu kehilangan dia sekali lagi dan kamu pikir masih ada aku yang dengan setia mau tetap menerima. Memang manusia paling sibuk adalah dirimu, kamu punya satu wanita yang kamu cintai dan kamu punya satu wanita lagi untuk pulang dari segala rasa sakit yang dialami.

Apa rasanya kalau aku benar-benar pergi? Kamu akan hacur dan menyesali segalanya, menyesali kenapa kamu mengejar manusia yang mencintai dirimu separuh sedangkan ada seseorang yang dengan penuh menerima segala kurangmu. Saat ini aku berusaha melupakan kenyataan yang benar-benar menyakitkan, melupakan fakta-fakta yang mulai bicara bahwa saat aku sedang gencar-gencarnya memeperhatikan segala yang kamu miliki sampai aku tidak sadar bahwa yang terjadi yakni kamu milik orang lain.

Sekali lagi aku jadi lelucon untuk kalian berdua khususnya perempuan itu, aku kembali ditertawakan karena masih berusaha padahal tidak lagi diberi kesempatan, aku ingin bangkit namun tidak juga diberi jalan. Lalu apakah aku akan terus bergelut didunia kamu dan dia? Semenyedihkan itu ya rasa tulus. Dia selalu menang meski tanpa usaha, dia selalu digenggam meski tangannya menolak, dia selalu diterima meski salah selalu menyelimutinya dan dia selalu ditemui padahal ia sumber dari segala perih. Sedangkan aku, selalu ditinggalkan meski sudah usaha, sudah pecah belah dan sudah porakporanda.

Aku masih bersedia menemanimu kapanpun kamu mau, jika pilihanmu satu-satunya adalah aku tapi kalau pada akhirnya tetap dia yang kamu  mau, terpaksa langkah kaki ini ku biarkan berjalan ditempat yang tidak bisa kamu temukan.  

Kalau aku benar pergi, artinya aku menyadari.

Aku sudah lelah terluka, dengan alasan yang sama

Segalanya terasa biasa karna hantaman keras itu sudah beberapa kali aku hadapi.

untukmu, jangan pernah menolak segala kemungkinan yang bisa terjadi, sebab jika kamu menolak padahal kamu inginkan yang akan terluka itu aku dan kamu, nantinya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meninggalkan Rumah