MASIH TERJEBAK
Seseorang
yang pernah menyimpan begitu banyak duka dan pilu tidak membuat aku sadar bahwa
sedari awal memang bukan aku yang dia suguuhkan segala kasih dan sayang.
Melainkan pelarian hebat dari rasa sakit yang kembali ia rasakan. Aku masih
tetap ada disana, diruang tunggu yang entah ditemui kapan atau bahkan tidak
akan mungkin ia temui sama sekali, tidak banyak rasa senang yang dapat jadi
tiang untuk bertahan, hanya saja aku terus berdalih pada kata sayang yang
sebenarnya itu hanya rasa bimbangku yang belum menemukan tuan baru untuk
ditinggali.
Satu-satunya
hal yang ingin aku lakukan hanyalah lari, lari sejauh jauhnya dari segala asa
yang aku nikmati sendiri. Berlari sendiri memang menyebalkan, maka aku butuh
orang yang bersedia menemaniku berlari, aku tidak tahu harus lari sejauh apa
agar segala rasa takutku tertinggal
dibelakang, aku hanya mau ditemani lari bukan ditemani untuk tinggal
dirumah yang sudah disiapkan utuh untukku. Aku mau ada manusia yang bersedia
lelah bersama, akupun tidak bisa memastikan sampai kapan aku harus lari. Jika
memang kamu lelah berlari bersamaku, kamu silahkan istirahat dan berhenti karna
perjalanan ku untuk lari masih sangat jauh. Aku selalu memperingatkan setiap
orang yang mau berusaha sampai pada akhirnya mereka sendiri yang memutuskan
untuk pergi karna berjalan denganku hanya untuk menyelamatkan diriku dari kepungan
rasa sakit tanpa memikirkan perasaan mereka yang berharap akan ditinggali namun
kenyataannya hanya diajak lari yang tak punya akhir.
Aku
terjebak ditempat yang sebenarnya bisa kapanpun aku tinggalkan, tapi aku hanya
enggan untuk beranjak karena takut kedepannya semua insan akan memperlakukan
aku sama sepertinya. Banyak ketakutan yang aku ciptakan sendiri, memanipulasi
ketulusan yang datang silih berganti.
Aku
terjebak disini, diruangan yang tidak lagi layak untuk ditinggali. Ribuan kali
ia datang untuk mngunjungi ruang usang ini aku selalu siap memberikan apapun
yang ia inginkan tanpa memikirkan bagaimana perasaanku yang bisa saja hancur
berantakan setelahnya. Semaunya lenyap hanya dengan melihat senyumnya, tawanyaa
bahkan rasa bahagia yang coba ia utarakan. Kamu sayang,hatinya kini masih belum
boleh aku miliki lagi.
Aku
masih terjebak tapi aku sadar bahwa sebenarnya jalan keluar ada didepan mata,
kakiku masih terluka jadi untuk disuruh berlari meninggalkan semuanya aku belum
mampu.
Komentar
Posting Komentar