DISKUSI DENGAN TUHAN
Setiap malam ada banyak hal yang aku diskusikan dengan Tuhan, tentang kehidupan dan juga tentangmu. Pertanyaan-pertanyaan semu yang tidak hilang hanya dengan bicara, ada beribu jawaban yang mampir kelubuk hatiku tapi hanya satu yang aku tidak tahu yaitu perubahan sikapmu. Entah benar atau salah namun posisi kita tidak ada dikeduanya.
Tak hanya diskusi ada
beberapa hal yang juga aku negosiasikan dengan Tuhan, bisa atau tidak tapi aku
maunya kamu. Mungkin Tuhan selalu tertawa ketika umatnya menangis hanya karna
seorang manusia tapi masih saja aku melakukannya. Mengecewakan Sang Pencipta hanya
demi dibersamai dengan pilihanku. Jelas Tuhan marah dan cemburu hingga
menjadikan perubahanmu sebagai cambuk yang melukaiku. Hal bodoh lainnya, aku
masih saja memintamu pada Tuhan, meminta segala bahagia yang pernah mampir
kembali terjadi dan Tuhan masih saja baik, memberiku udara segar melalui sebuah
pertemuan meski aku bisa saja lebih sering bertemu dengannya daripada manusia
di bumi.
Setelah aku pikir
kembali, diskusi berikutnya tidak jauh-jauh dari kamu, selalu. Ada banyak cara
dan makna dibalik pertemuan yang Tuhan takdirkan. Ada yang dibersamai sampai
mati ada juga yang hanya diberi kesempatan untuk saling memahami dan belajar
mencintai terlebih lagi mencintai Sang Pencipta. Banyak pernyataan seperti itu
tapi ketika sudah kecewa yang disalahkan bukan orang tercinta atau diri sendiri
melainkan keadaan dan Tuhan si pembuat keputusan.
Diskusiku dengan Tuhan
berlangsung lama dan hingga kini tidak mendapat jawaban yang aku mau, sebab Tuhan
masih saja memberi cobaan melalui dirimu, aku bersabar aku meminta. Ya meminta
kamu lagi. Berharap semuanya baik-baik saja lalu kembali terlena.
Bisakah Tuhan?
Bolehkah Tuhan?
Dia ya Tuhan?
Begitulah diskusiku disetiap
selipan doa, terlihat memaksan dan tidak bermakna tapi inginku ya cuma kamu,
sampai nanti. Sampai takdir Tuhan yang mutlak, yaitu kematian. Mungkin saat
takdir mutlaknya terjadi, aku akan kembali berdiskusi dengan kalimat-kalimat
memohon yang sekali lagi memaksa takdir.
Nanti ya Tuhan?
Sebantar lagi Tuhan?
Sebelum dia, aku dulu ya Tuhan?
Boleh ya Tuhan?
Bahkan kali ini, sebelum aku memutuskan untuk berdiskusi Tuhan sudah tahu apa yang hendak aku bicarakan dan ia bosan lalu mengabulkannya, itulah harapanku.
Tapi jika memang begitu
yang terjadi Tuhan akan selalu bersedih sebab nanti akan banyak umatnya meminta
hal yang sama dan mencampakkan dia sebagai Sang Maha Cinta.
Takdir memang Tuhan yang
tuliskan tapi jika tanpa usaha bukankah semuanya akan sia-sia? Jika tidak
sekarang mungkin nanti, Tuhan hanya mau kita lebih bersabar dan tabah menerima
kenyataan. Sebab yang fana tidak selalu jadi realita dan realita yang terjadi
justru terlihat sangat fana.
Sekian ceritaku tentang
diskusi yang terjadi setiap malam, hingga kini diskusi itu hanya akan menjadi
pengharapan doa-doa baik yang selalu hadir disetiap harimu dan aku jadi
penikmat senyuman dari hari-hari bahagiamu.
Komentar
Posting Komentar