Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Bukan Salah Siapa-siapa

Kita sama-sama tau kalo sebenernya saya dan kamu itu gak salah, kita sama sekali gak salah atas perasaan yang kita punya, kalo saya sayangnya sama kamu ya itu pilihan saya, perasaan saya dan kemauan saya tidak ada paksaan atau semacamnya. Kamu pun sama datang tanpa disengaja dan entah memberikan hati untuk siapa itu juga kemauanmu tanpa paksaan, kecuali saya maunya kamu dan kamu harus mau gak peduli perasaan kamu bagaimana, itu baru bentuk paksaan dan itu sudah pasti salah saya, sepenuhnya. Saya gak pernah nyalahin kamu karna gak bisa jadiin saya satu-satunya, saya juga gak merasa bersalah kalo terus-terusan punya rasa sayang yang saya sendiri tau itu akan percuma. Saya cuma bisa nikmatin bahagia dan rasa sakitnya ketika bertahan satu-satunya yang ingin saya lakukan. Kamu juga jangan merasa bersalah karna perasaanmu enggak bisa sampai ke saya, mungkin kamu terlalu takut bersorak gembira bahkan berdansa di atas luka lama yang belum sirna. Karna saya tau perasaan dan hati gak bis...

Tak Pernah Diinginkan

Sebenernya dari awal ketemu dia saya udah punya firasat bahwa ini gak akan lama, tapi bertahan selama kurang lebih 7 bulan padahal saya bukan orang yang dia inginkan cukup bikin saya mikir bahwa saya sudah jadi lembaran pertama buku kesukaannya yang selalu dia buka padahal bukan saya yang mau dia baca. Hadir tanpa diminta dan tanpa sengaja menjadikan saya sesuatu yang ada tapi tidak diinginkan, entah seperti apa inginnya yang sungguh sampai-sampai ada atau tidak adanya saya bukan hal yang berarti buat dia, hingga akhinya saya memilih untuk pergi dia tetap tidak apa-apa. Kehilangan saya bukan jadi musuh terbesarnya tapi partner karibnya. Saya masih berharap dicari karna mungkin dia sadar bahwa dia emang butuh saya buat ada dihidupnya walaupun cuma sekedar menemani dia makan mie dengan telur setengah matang atau berbagi cerita yang sebenernya gak lucu-lucu banget. Tidak diinginkan berarti ketika hilang tidak dicari, tidak dihubungi, tidak lagi peduli dan tidak ingin saling menemu...

Luka Bukan Salah Waktu

Padahal baru kemarin waktu mempertemukan kita ditengah-tengah kehancuran dunia, di mana saya dan dia telah sama-sama hilang rasa. Baru sebentar saya lihat senyum dia dari dekat, jahatnya waktu merampas itu begitu cepat tanpa lihat-lihat. luka adalah obat abadi dari rasa sakit yang pernah dialami dan bahagia adalah penangkal yang paling mujarab makanya yang sering dicari itu bahagia bukan luka tapi justru yang didapati hanya luka, luka, dan luka lalu kapan akan sembuhnya? Waktu bukannya memberi obat tapi malah menciptakan luka baru yang tidak kalah sakit dari yang sebelumnya. Merelakan juga bagian dari luka, rela dia sama yang lain, rela dia bahagia sama yang lain, rela nangis cuma karna gak bisa denger kabar dia lagi, rela selalu kangen tapi gak dikangenin balik, semua yang saya ingin harus sesegera mungkin direlain. Karna waktu juga punya limitnya sendiri, pertemuan dan kebahagiaan yang dia kasih udah dibatas paling ujung, sebentar lagi habis bahkan sudah habis sejak kemarin. ...

Kosakata Rasa Beda Irama

      Sudah tau kalau dia gak bisa dimiliki tapi masih terus berjuang untuk rasa sakit yang nantinya dinikmati pelan-pelan. Nanti juga capek sendiri, iya memang benar. Rasa yang dibuat menjadi kosakata cinta tapi irama yang mengalun sangat berbeda menjadikan suara yang tidak senada hanya menciptakan delusi sendiri bahwa musik yang didengar sangat menyenangkan tapi pada kenyataannya hanya akan membuat telinga sakit dan berujung menghentikan musiknya, secara sadar atau dengan paksaan.       Obat yang dia beri justru semakin memperparah luka yang harusnya sembuh sejak kehilangan yang pertama, sudah tau begitu masih saja dicoba bahkan diteruskan hingga luka yang lainnya muncul satu persatu.       Caranya mengekspresikan kehilangan dan kekecewaan dulu sangat berantakan, menjadikan semua peluang itu umpan bahkan berujung pelarian yang iseng-iseng dia jalankan tanpa khawatir beberapa pihak dirubah menjadi dia yang sudah kehilangan. Cara saya me...

Menunda Rasa Sakit

Kita ini apa? Teman, lebih atau tidak semacamnya Kita ini apa? Dekat atau tidak seperti kelihatannya Kita ini apa? Saling ada tapi bukan dalam poros yang sama Seperti apa aku dihatimu, begitupun sebaliknya Bagaimana menjawab semua pertanyaan ambigu itu? Aku tidak masalah Selama kita masih mencari Hingga kita saling bertemu Di benua pelarian yang abu-abu. Kita, kita dan kita Terus saja berdalih bahwa kalian sudah jadi kita, padahal dipastikan saja belum kamu satu satunya dihatinya juga belum tentu, lantas bagaimana bisa kata kita terlontar dengan sembarangan? Rancuni pikiranmu sendiri dengan kata kita padahal bukan siapa-siapa. Rasa sakitmu bukannya tidak ada tapi hanya tertunda dengan bualan-bualan dan canda tawa yang perlahan juga akan sirna pada waktunya.        Berusaha memantaskan satu sama lain, berusaha selalu ada dan usaha-usaha lain bukan semata-mata perasaan kami saling bertautan hanya saja belum siap merasakan kepahitan itu sekali lagi, masi...

Angan Tanpa Tangan

Bagaimana rasanya berekspetasi dengan apa yang kamu inginkan? Indah bukan. Bisa berangan kesana dan kesini bisa membangun harapan setinggi Monumen Nasional bahkan menciptakan jawaban sendiri atas kebimbangan yang dialami. Banyak yang terjebak disana, didalam indahnya berekspetasi. Membangun yang belum ada, menginginkan yang belum pasti dan menggiring opini sendiri. Percayalah semua orang senang bermimpi tinggi tapi terkadang seseorang juga lupa bagaimana bangkit setelah jatuh berkali-kali. Berekspetasi juga termasuk usaha, usaha membangun angan-angan meski tahu kenyataannya tidak demikian. Kita hanya perlu sadar seberapa perlu kita bermimpi dan sisanya harus tetap bangun, berjaga saja bila suatu saat ekspetasi yang kita buat dengan sadar itu malah mengkhianati kita dengan kasar mungkin lebih kasar dari kata brengsek dan semacamnya. Memiliki angan yang tak memiliki tuan ataupun lengan pasti berakhir pilu dan menyakitkan. Kenapa demikian? Logikamu jalankan, kamu punya seberkas ha...

Mengagumi Tanpa Memiliki

Menyenangkan rasanya bisa melihatmu tersenyum meskipun dari kejauhan, menghantarkan seberkas rindu yang tak sampai pada tuannya. Setidaknya aku tidak dilarang menemui senyummu diujung persimpangan. Beruntung aku pernah kau lewati, pernah menjadi jalan pintas saat kamu menempuh jalan utama. Meskipun tujuanmu bukan aku, setidaknya jalanku pernah ada dalam rencanamu. Begitulah rupanya aku bersyukur karna bertemu denganmu, seseorang yang mampu membuat aku tertawa meski tak sengaja dibuat tertawa. Terkejar tapi tak tergapai, persisnya kamu seperti kupu-kupu indah yang kerap mampir ditamanku. Sungguh, aku benar-benar kehabisan kata saat melihatmu bercerita yang kerap menimbulkan tawa disela-sela aku yang menganga menyaksikan keindahan manusia yang tuhan ciptakan begitu sempurna. Banyak harap, angan dan keinginan untuk memilikimu tapi tanganku tak sampai bila harus mengenggam jari-jarimu lain halnya jika kamu mau mengulurkannya untukku maka kita akan bertemu pada satu genggaman hangat di...