Postingan

MASIH TERJEBAK

Seseorang yang pernah menyimpan begitu banyak duka dan pilu tidak membuat aku sadar bahwa sedari awal memang bukan aku yang dia suguuhkan segala kasih dan sayang. Melainkan pelarian hebat dari rasa sakit yang kembali ia rasakan. Aku masih tetap ada disana, diruang tunggu yang entah ditemui kapan atau bahkan tidak akan mungkin ia temui sama sekali, tidak banyak rasa senang yang dapat jadi tiang untuk bertahan, hanya saja aku terus berdalih pada kata sayang yang sebenarnya itu hanya rasa bimbangku yang belum menemukan tuan baru untuk ditinggali. Satu-satunya hal yang ingin aku lakukan hanyalah lari, lari sejauh jauhnya dari segala asa yang aku nikmati sendiri. Berlari sendiri memang menyebalkan, maka aku butuh orang yang bersedia menemaniku berlari, aku tidak tahu harus lari sejauh apa agar segala rasa takutku tertinggal   dibelakang, aku hanya mau ditemani lari bukan ditemani untuk tinggal dirumah yang sudah disiapkan utuh untukku. Aku mau ada manusia yang bersedia lelah bersama...

FALL AGAIN

Hari ini aku bukan ingin membuat tulisan dengan kata yang bermakna konotatif dan bermajas. Hari ini aku hanya ingin menumpahkan segala yang aku rasakan melalui tulisan, maka segala yang ada disini bukan apa yang ingin kalian baca tapi tulisan ini menyajikan apa-apa yang aku pendam dan kemudian aku tumpahkan. Aku kembali lagi terluka, pada fakta yang sama fakta bahwa kamu   masih amat mencintainya, fakta bahwa kamu kembali kedalam pelukannya dan fakta bahwa selama ini aku dibuat mencinta namun kamu jatuhkan lagi dengan fakta kamu adalah miliknya. Mulai detik ini aku tidak akan pernah lagi percaya pada kata tidak yang keluar dari bibirmu, entah kenapa kata tidak seperti kiasan kata ia yang amat dijaga, dengan embel-embel menjaga perasaanku. Kamu utarakan kata tidak untuk sesuatu yang masih kamu inginkan tapi tidak denganku. Aku kembali lagi hancur dihantam keras kenyataan yang sedari waktu itu aku percaya tidak akan lagi terjadi, kamu mencintainya dengan segenap rasa yang kamu p...

WANITA DI PODIUM UTAMA

  Kali ini aku bercerita tentang seorang wanita yang begitu dicintai oleh lelaki yang aku kagumi, ia selalu bisa membuat apa yang tidak mungkin padaku tetap terjadi padanya. Entahlah, sepertinya nomor satu adalah gambaran dari dirinya, tidak pernah aku mendapat celah itu meskipun berusaha sungguh-sungguh sudah aku lakoni dan hasilnya tetap pada ia yang masih bertahan diurutan pertama. Aku   pikir mengusahakan semesta bisa membuat dia tinggal lebih lama tapi nyatanya wanita di podium utama itu mengalihkan segalanya, segala sabar, segala cinta   bahkan segala usaha. Nampaknya menyerah sudah berteriak minta diucapkan, aku hanya bisa menerima apa-apa yang ada bahkan ketika hal buruk kembali lagi terjadi rasanya aku sudah tidak mau peduli. Rasanya memang sakit, sakit sekali. Membuat aku tidak bisa tidur dua hari dua malam, membuat aku menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, dan segala usaha yang pada akhirnya jadi percuma. Bagaimana nasib sang cinta yang dibiarkan menaruh ...

Saling lupa lagi

Lagi lagi hari dimana sebuah perpisahan melambai bebas disebrang sana. Memaksa raga dan batin saling bertukar peran, merasa lelah dengan keadaan yang selalu punya ending yang sama. Datang, pergi, kembali, hilang, lupa, dan jumpa. Semua benar-benar berakhir dihari ini, usaha yang siang malam dipupuk, pertahanan yang setiap menit dibangun sebentar lagi akan roboh dalam hitungan jam. Perlahan dipaksa merelakan sesuatu yang menyakitkan namun menyenangkan membuat semua darah dalam diri berhenti mengalir. Seperti ingin menghentikan waktu dan punya banyak kesempatan untuk mengulang dan bersama. Entahlah, setelahnya dunia kembali akan pontang panting mencari titik senang. Dia kian bebas berlabuh dipelabuhan baru atau kembali ke pelabuhan dimana hatinya diporak porandakan.  Rumah yang berusaha aku suguhkan nampaknya tidak lebih baik dari tinggal dijalanan bersama kebebasan. Tempat dimana seharusnya manusia pulang dan beristirahat malah dijadikan tempat singgah yang hanya memperlambat luka b...

Perpisahan yang kembali dirayakan

Merelakan tampaknya tidak bersahabat dengan rasa senang, karna pastinya hal yang berusaha keras direlakan pada akhirnya akan jadi berita duka bagi diri sendiri dan rasa senangnya ada ditahap kembali merayakannya sekali lagi. Tidak banyak kata perpisahan yang saya ucapkan waktu itu karna sejatinya kamu sudah duluan pergi tanpa sepatah kata hati-hati dan terima kasih, segala yang terlewati beratus-ratus hari kebelakang rasanya belum cukup membawa saya kepada kata ‘sudah rela’ atau paling tidak kata merelakan sudah ada dalam rencana saya. Pada akhirnya perpisahan, kehilangan, dan hal menyedihkan lainnya akan kembali lagi dikenang bahkan sesekali dirayakan, bukan sekali tapi sudah hampir kebeberapa kalinya. Tidak mudah memang bersorak hore.. hore .. ditengah kepahitan kenyataan sebab merelakan perpisahan yang tengik sama saja membuka luka itu sekali lagi. Perpisahan yang kerap jadi musuh besar kita pada saat itu akhirnya jadi keinginan terbesarmu, hingga sampai hari dimana itu terjadi ...

Tidak Pernah Kehilangan

  Apa yang paling diingat ketika kehilangan seseorang atau sesuatu yang disukai? Rasa sepi, salah satunya. Tapi bagaimana ketika kehilangan sepinya juga tidak pernah ada? Lalu bisakah hal tersebut dinamakan kehilangan? Singkatnya begini, saya kehilangan kamu dan setelah ini kita bukan lagi apa-apa dihati masing-masing, saya akan berubah dan kamupun sama. Lain cerita jika kamu yang kehilangan saya, karna sejauh apapun saya pergi kamu   tahu jawaban saya pasti kembali lagi, lagi, dan lagi. Memasuki beberapa lubang yang pernah membuat saya jatuh berkali-kali, makanya kehilangan saya tidak pernah jadi hal yang mengerikan sebab hilangnya saya cukup membebaskan kamu dari ini itu yang berkaitan dengan saya tetapi hal lainnya tidak. Karna kamu tahu saya akan iya-iya saja dan memaafkan, kamu senang menarik ulur keberadaan saya yang akhirnya jadi lelucon antara kamu dan perempuan itu.   Sampai sejauh ini saya paham kenapa kamu enggan melepaskannya dan lebih memilih untuk kehila...

Meninggalkan Rumah

Semakin berlalu pekan-pekan sepi kebelakang, saya baru sadar bahwa ternyata sebaik-baiknya tempat pulang, bercerita, dan bergembira hanya satu. Tempat yang pernah saya tinggali lalu saya tinggalkan. Dia sosok rumah megah dengan segala kenyamanan, membuat saya ingin kembali dan kembali tinggal di dalamnya. Setelah begitu banyak cerita yang saya bagikan ke beberapa orang berbeda, naas tak ada satupun yang menjawab setenang dan semenakjubkan seperti yang dia lakukan. Yang satu hanya banyak tertawa tanpa mengerti apa yang saya gelisahkan, yang lainnya hanya iya-iya saja padahal itu membuat saya khawatir. Tidak banyak yang tahu bagaimana cara menanggapi cerita rumit dari orang biasa seperti saya, tapi dia mampu membuat segala kegelisahan menjadi tawa yang menenangkan hanya dengan satu lawakan. Sehingga saya merasa kata “Kalau ada apa-apa cerita aja” sungguh percuma kalau itu bukan dia. Saya bertanya-tanya seperti apa sosok rumah yang saya tinggalkan ini, apakah banyak penghuni baru di...